Kamis, 04 Juli 2013

Museum Pusaka

Setelah berkeliling di kawasan TMII, Saya singgah ditempat persewaan sepeda, karena cucu Saya kepengen naik sepeda, setelah memilih dan mencoba remnya, Saya kemudian membayar sewanya untuk setengah jam kedepan

Saya duduk menunggu dibawah pohon sambil minum kopi yang dijajakan, tidak sengaja pandangan Saya melihat sebuah papan besar yang bertulisan "Museum Pusaka"

Kebetulan, daripada cuma duduk dibawah pohon, lebih baik waktu luang ini Saya manfaatkan untuk melihat isi museum





Museum Pusaka, adalah salah satu dari beberapa museum yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII),  Museum beralamat di Jalan Raya TMII, Jakarta Timur, Indonesia

Museum ini diresmikan penggunaannya untuk umum pada 20 April 1993 oleh Presiden RI kedua, H M Soeharto 

Setelah membayar tiket masuk 7.500 rupiah, kemudian Saya memasuki ruang pamer pada museum ini
 
Museum berdiri diatas lahan seluas 3.800 M2, Bentuk Bangunan Museum Pusaka ini cukup unik, berbentuk limas segi lima, bertingkat dua, Luas lantai dasar 935 M2 dan luas lantai atasnya 600 M2

Dari kejauhan, keberadaan museum ini sudah dapat terlihat, karena pada atap bangunan museum terdapat replika sebuah keris berukuran besar (tingginya sekitar 3 atau 4 Meter)


Koleksi Museum
Koleksi museum terdiri dari 5.611 buah benda peraga berupa Keris, Tombak, Golok, Mandau, dan berbagai ragam senjata tradisional dari seluruh wilayah Indonesia

Jika Anda adalah orang yang suka dengan benda pusaka, disinilah tempat yang tepat untuk melihat koleksi aneka ragam keris dan benda pusaka pilihan, yang mempunyai nilai seni tinggi, termasuk mengenai sejarah dan asal usul benda pusaka tersebut



Saya sendiri bukanlah seorang penggemar atau kolektor keris , tetapi dengan masuk ke museum ini wawasan Saya mengenai keris dan benda pusaka menjadi lebih terbuka

Enggak lucu juga ya, jika kita sebagai bangsa indonesia tidak mengerti jika ada orang yang bertanya tentang keris


Pengertian sederhana Keris 
Keris adalah sebuah senjata tikam, berujung runcing dan tajam pada kedua sisi bilahnya, biasanya ada lekukan pada kedua sisinya

Keris bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena bentuknya yang tidak simetris, pada bagian pangkal agak lebar dan mengecil pada bagian ujungnya, kebanyakan bilahnya berliku dan memiliki pamor (damascene) yaitu guratan logam cerah pada helai bilahnya

Pengguna keris tersebar pada masyarakat yang pernah bersentuhan dengan budaya Majapahit,  seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, Pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailan Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanau)


Keris bagi Masyarakat Jawa
Perkembangan budaya keris berjalan seiring dengan meningkatnya penghayatan terhadap keberadaan keris itu sendiri, hal ini dapat dilihat pada tata nilai kehidupan masyarakat Jawa umumnya

Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya “The History of Java” pernah menulis, “Seseorang lelaki jawa yang tidak menyandang keris, ibarat telanjang dst...”

Senada dengan kalimat itu, ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa seorang lelaki jawa belum lengkap hidupnya bilamana belum memiliki Curiga (keris), Turangga (kuda), Wisma (rumah), Wanita (isteri), dan Kukila (burung), benda yang terakhir ini menurut pendapat Saya mengandung makna ganda, tergantung kepada orang yang menafsirkannya



Anatomi Keris
Ulasan mengenai anatomi keris ini Saya tulis sekedar untuk mengenalkan bentuk keris secara garis besarnya kepada pembaca, (terlalu panjang jika ditulis disini)

Jejeran atau Deder, adalah Hulu Keris, Umumnya terbuat dari Kayu, tetapi bisa saja dibuat dari Tulang, dan Tanduk atau Gading

Gandhik, adalah Pangkal Bilah (Sor-soran), bentuk gandhik ini beragam seperti Lugas Panjang, Laler Mengeng dll

Selut, adalah tambahan cincin yang terbuat dari logam yang melingkari hulu keris, untuk menambah keindahan saja (tidak keharusan)

Ganja, adalah bagian dasar bilah, kegunaannya memang berfungsi sebagai ganjal penguat

Bilah Keris, adalah bentuk utuh dari keris itu sendiri, biasanya terbuat dari tiga unsur logam yaitu, Besi Biasa, Besi Pamor, dan Baja
Ketiga bahan inilah yang diperhatikan atau dinilai untuk menentukan baik atau tidaknya mutu sebuah keris

Warangka, adalah sarung keris, biasanya terbuat dari kayu, merupakan satu kesatuan antara Bilah Keris dan warangkanya, maksudnya keris tanpa warangka belum bisa disebut sebuah keris, begitu juga sebaliknya

Pendok, adalah selongsong warangka keris yang terbuat dari logam tipis sebagai pembungkus gandar, fungsinya untuk memperindah dan memperkuat warangka

Mendhak, adalah bentuk cincin yang dipasang melingkari Pesi, letaknya diantara Jejer dan Ganja, gunanya untuk menperindah dan memperkuat tangkai kayu pada hulu keris agar tidak mudah pecah dan rusak




Sejarah Museum
Pada mulanya koleksi benda pusaka dimuseum ini berasal dari hibah Dra Sri Lestari Masagung (Museum Tosan Aji, di Jl Kwitang, Jakarta Pusat) kepada Hj Siti Hartinah Soeharto selaku ketua Yayasan Harapan Kita

Pada Juli 1992 digagas sebuah proyek untuk membangun Museum Keris TMII, dan pada 20 April 1993, Museum Pusaka ini diresmikan pembukaannya untukumum oleh Presiden RI H M Soeharto

Informasi lain
Museum Pusaka dibuka untuk masyarakat umum setiap hari dari pukul 09.00 sd 16.00, harga tiket masuk Rp.7.500,00 per orang

Museum Pusaka juga menerima jasa untuk Perawatan, sertifikasi, dan konsultasi pusaka atau Tosan Aji

Museum Pusaka, menyediakan Ruangan yang dapat disewa untuk rapat, seminar, Sarasehan, workshop dll

Anda belum pernah ke Museum Pusaka?
Ajaklah Keluarga, atau Putera Puteri Anda, untuk mengenali dan mengetahui keaneka ragaman budaya yang dimiliki oleh Negara Indonesia

Artikel lain mengenai museum,  Museum Fatahillah



Tidak ada komentar: