Selasa, 19 November 2013

Rumah Betang di Desa Buntoi



Menurut catatan yang Saya temukan pada Rumah Betang Buntoi, Rumah Adat Suku Dayak ini pembangunannya dimulai pada Tahun 1867 dan selesai pada Tahun 1870, Rumah Adat dibangun oleh seorang Ketua Adat yang bernama Singa Jala, Beliau dilahirkan pada Tahun 1835 dan meninggal pada Tahun 1921

Bangunan Rumah Adat ini ukurannya tidak terlalu besar, memiliki panjang sekitar 25 Meter dengan Lebar 15 Meter, Tiang, Lantai, Dinding, dan Atapnya berbahan dasar Kayu Ulin



Rumah Adat dikerjakan oleh seorang Arsitek berasal dari Suku Banjar (Banjarmasin), dibantu oleh tenaga kerja lokal, dengan biaya sekitar 1000 Ringgit (Mata uang yang berlaku pada masa itu)

Menurut pengamatan Saya, Bangunan Rumah Adat ini tidak terlalu mirip dengan Bangunan Rumah Betang aslinya, sepertinya malah lebih mirip dengan bangunan Rumah Adat Suku Banjar

Perbedaan nyata antara Rumah Betang ini dengan Model Rumah Banjar, terlihat dari konstruksi atapnya yang menggunakan Model Atap Datar Memanjang, sedangkan pada Rumah Banjar biasanya menggunakan Model Atap Bubungan Tinggi

Saya hanya menduga, Model Bangunan Rumah Betang ini ada hubungannya dengan penunjukan “Orang Banjar” sebagai Arsiteknya, (tidak ada rujukan yang bisa Saya temukan mengenai sosok dan nama dari Sang Arsitek ini)

Dugaan Saya cukup beralasan, karena beberapa rumah tua yang ada disekitar Rumah Betang Buntoi, dibangun dengan Model Rumah Banjar, seperti yang biasa kita temui pada perkampungan tua di Banjarmasin



Profile Rumah Betang Buntoi
Bangunan Rumah Betang Buntoi pada bagian depannya memiliki sebuah serambi dan sebuah tangga utama yang menghubungkan pelataran serambi dengan halaman diluar rumah

Pada pelataran yang digunakan sebagai ruang duduk ini tersedia seperangkat kursi tamu, dan pada bagian belakang ruang tamu ini terdapat sebuah pintu besar berdaun ganda, sebagai pintu masuk utama



Bagian bawah pada Rumah Betang memiliki kolong rumah yang tinggi yang ditopang beberapa pilar dari Kayu Ulin Glondongan

Untuk naik kerumah betang, tersedia dua buah tangga dari balok kayu ulin yang telah dipahat sebagai undakan untuk naik, satu tangga berukuran besar merupakan tangga utama yang digunakan untuk naik ke serambi depan, sedangkan tangga satunya lagi berukuran lebih kecil, untuk naik kebagian dapur

Saya menangkap maksud dibuatnya dua tangga ini, jika diserambi sedang ada tamu, maka orang rumah bisa naik atau turun melalui tangga di pintu dapur, supaya tidak mengganggu tamu yang datang

Saya masuk melalui pintu utama, yang pertama Saya lihat adalah adanya semacam ruang keluarga berukuran luas (tempat dimana dulunya para penghuni bersosialisasi)

Pada bagian kiri dan kanan ruang keluarga ini terdapat beberapa kamar tidur, kemudian Saya masuk lebih kedalam melalui bagian kiri (dalam) rumah, pada ujung bagian ini terdapat ruangan dapur keluarga yang dulunya pernah dipakai bersama


Perabotan yang terdapat didalam rumah adat ini tidak banyak, hanya ada seperangkat Alat Tabuh (Gong), beberapa buah Keramik, Sebuah Meja Marmer, dan Senjata Tradisional Suku Dayak (sumpit dan Mandau) selebihnya adalah ruang kosong




Setelah mengambil beberapa foto untuk dokumentasi, kemudian Saya berpamitan pada penjaga rumah adat untuk kembali ke Pulang Pisau

Lihat juga, Replika Rumah Adat Betang di Kalimantan Tengah


Rute ke Rumah Betang
Minimnya rambu yang dibuat oleh Pemerintah Setempat yang menunjukan bahwa ditempat ini terdapat sebuah Objek Wisata Budaya merupakan kesulitan tersendiri untuk orang luar yang tidak membawa pemandu jalan

Lucunya lagi, Beberapa penduduk dijalanan yang sempat Saya tanyai Alamat dan lokasi Rumah Betang, banyak yang menjawab, tidak tahu

Berikut ini adalah rute yang pernah Saya lalui, agar pengunjung dapat menghemat waktu dan biaya, dan tidak perlu mengulangi kesulitan yang pernah Saya alami sebelumnya

Rumah Betang Buntoi dapat didatangi dengan kendaraan bermotor, jarak Desa Buntoi dari kota Banjarmasin sekitar 130 Km dan berjarak sekitar 115 Km dari kota Palangkaraya

Kota yang terdekat adalah Pulang Pisau, berjarak sekitar 30 Km dari Desa Buntoi, jarak ini dapat diperpendek jika menggunakan jalan pintas dengan menyeberangi Sungai Kahayan menggunakan kapal ferry

Untuk pengendara motor dari arah Banjarmasin, Bisa Naik ferry di dermaga yang terdapat di Desa Mintin atau bisa naik dari dermaga ferry yang ada di Jalan Tingang Menteng didepan Toko Humaira Electrik (Jalan pintas ini dapat menghemat jarak sekitar 20 Km)

Biaya ferry 5K, setelah sampai diseberang, ambil jalan yang kekiri (menuju ke arah Bahaur) masuk sekitar 8 Km, setelah sampai di Kantor Puskesmas Pembantu, pada sisi kiri jalan terdapat Jalan Bato Saman, masuk sampai kepinggir Sungai Kahayan, belok lagi kekiri sekitar 100 Meter, Anda sudah berada dihalaman Rumah Betang Buntoi  

Untuk pengendara mobil dari arah Banjarmasin, ikuti jalan Trans Kalimantan, pada ujung jalan Jembatan Gohong ada pertigaan jalan, jika kekanan menuju Palangkaraya, dan jika belok kekiri menuju Bahaur/Pangkoh, ambil jalan yang kekiri (menuju Bahaur), masuk sampai ketemu Puskesmas Pembantu, Belok kekiri ke Jalan Bato Saman

Untuk pengendara mobil dan motor dari arah Palangkaraya, setelah sampai dipertigaan Jembatan Gohong, ambil jalan lurus menuju Bahaur/Pangkoh, masuk sampai ketemu Puskesmas Pembantu, Belok kekiri masuk ke Jalan Bato Saman



Untuk mendatangi Rumah Betang Buntoi ini terkesan “ribet dan melelahkan” tetapi disitulah letak seni dan uniknya

Untuk lebih mudahnya, Sebaiknya Anda hanya cukup puas dengan melihat beberapa replika Rumah Betang yang dibuat mendekati bentuk aslinya

1.Replika Rumah betang yang terdapat di Desa Sungai Pasah, Kecamatan Kapuas Hilir (Disisi kiri jalan Trans Kalimantan, 5 Km sebelum masuk ke Kuala Kapuas dari arah Banjarmasin)

2.Replika Rumah Betang yang terdapat di alun-alun kota Kuala Kapuas

Selamat berwisata, dan berhati-hatilah dalam perjalanan


Tidak ada komentar: