Kamis, 22 November 2012

Tarakan (1) Konservasi Mangrove dan Bakantan


Roda pesawat Sriwijaya Air terasa agak kasar ketika menyentuh landasan pacu Bandara Juwata Tarakan,  Alhamdulillah perjalanan panjang dari Banjarmasin ke Tarakan telah usai

Ketika menuruni tangga pesawat, waktu setempat menunjukan pukul 19,15  agak terlambat dari jadwal semula,  karena adanya delay pada waktu keberangkatan di Bandara Banjarmasin

Setelah urusan bagasi selesai, Saya tidak langsung memesan taxi Bandara untuk pergi kekota mencari penginapan,  Saya singgah dulu diwarung kopi yang ada dibandara sambil memesan secangkir kopi hangat

Terdengar dering tilpon dari seluler, ternyata anak Saya yang di Jakarta menilpon
“Udah nyampe ya Pak” katanya
“Iya, Maaf lupa kasih tahu klo Bapak sudah sampai” Sahutku
“Rencana mau nginap dimana Pak” sambungnya
“Belum tahu, Bapak belum booking kamar” Sahutku lagi
“Klo Bapak mau, menginap di Mess perusahaan tempat Saya kerja saja Pak” katanya lagi memberikan saran
“Iya, Bapak lihat dululah tempatnya, klo tidak terlalu jauh dengan pusat jajanan, pastinya Bapak setuju”  Kataku lagi

Pembicaraanpun selesai, Saya tetap duduk diwarung kopi tadi, sambil nungguin Bbm yang masuk, alamat Mess berikut nomer tilpon orang yang harus dihubungi 

Dua puluh menit kemudian, Saya sudah dalam perjalanan menuju ke Mess, setelah memperlihatkan KTP dan menanda tangani formulir untuk administrasi, Saya menuju kekamar yang sudah disediakan, setelah mandi dan makan malam, nonton TV sebentar, kemudian Zzzz... Saya tertidur


Sofyan Effendi (Pemilik Blog)


Pagi yang cerah dan hangat mengawali hari kedua keberadaan Saya dikota Tarakan

Setelah sarapan, kemudian Saya mengunjungi beberapa teman bisnis untuk memonitor usaha kecil-kecilan yang selama ini masih terasa tersendat

Urusan kerjaan sudah selesai, kemudian waktu yang tersisa Saya pergunakan untuk melihat-lihat keadaan kota Tarakan, berikut ini yang sempat Saya catat untuk bahan penulisan

  

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bakantan

Mungkin ini hanya satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki Kawasan Konservasi  Flora dan Fauna yang keberadaannya ada didalam kota


Pintu Masuk KKMB


Kawasan Konservasi Mangrove dan Bakantan ini, beralamat di Jalan Gajah Mada, Tarakan, Kalimantan Timur

Memiliki luas wilayah sekitar 22 Ha, dikelilingi oleh pagar setinggi dua meter, lokasi taman wisata ini cukup mudah untuk didatangi karena tempatnya dipusat kota, dan berdekatan dengan pusat perbelanjaan, Pelabuhan Laut dan Bandar Udara

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bakantan ini, diresmikan pada tahun 2001, oleh dr H Jusuf Serang Kasim, Pejabat Walikota pada waktu itu

Kawasan ini merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Pemerintah Kota Tarakan, dikembangkan menggunakan perpaduan konsep yang berbasis pada pengembangan pariwisata dengan pelestarian lingkungan hidup (ekowisata)

Didalam taman ini dapat dijumpai sekitar 25 Jenis Tanaman Mangrove yang sengaja ditanam (orang setempat biasanya menyebutnya “Pohon Bakau”)

Selain koleksi tanaman Bakau, didalam Taman ini juga dipelihara sekitar 25 ekor Bekantan (Nasalis Lavartus), sejenis monyet lokal Kalimantan berbulu coklat yang berhidung panjang

Untuk memudahkan pengunjung yang datang, didalam taman wisata konservasi ini dibangun jalan penghubung berupa jembatan berbahan kayu ulin, yang unik ditempat ini dibangun juga sebuah perpustakaan


Koleksi Tanaman Mangrove-1

Koleksi Tanaman Mangrove-2

Jembatan Penghubung

Perpustakaan


Miniatur Bekantan

Bekantan-1

Bekantan-2


Mangrove dan Bekantan sebenarnya bukanlah Flora dan Fauna asli Pulau Tarakan

Mangrove dapat ditemukan dihampir seluruh wilayah pantai di Indonesia, sedangkan Bekantan sendiri, bisa ditemukan di seluruh wilayah pulau Kalimantan, bahkan Kota Banjarmasin (Kalimantan Selatan) telah memilih Bekantan ini sebagai ikon atau mascot daerahnya

Yang menarik untuk dicermati adalah bukan dari daerah mana Mangrove  dan Bekantan ini berasal, tetapi lebih kepada kepedulian sebagian orang atau institusi, terhadap lingkungan hidup dan pelestarian alam


Pada saat Saya berada di kawasan ini, Saya sempat bertemu dengan Mr Christian dan Mrs Joan, mereka ini adalah dua orang warga Negara Jerman yang ditugaskan oleh negaranya untuk melakukan riset dan analisa mengenai menyusutnya luas hutan bakau di Kalimantan

Dengan penguasaan bahasa inggris yang payah, Saya menyimak penjelasan yang diberikan oleh mereka

Walaupun Saya tidak mengerti seluruh isi penjelasan yang diucapkan oleh Mrs Joan, tetapi Saya bisa menangkap maksud beliau, bahwa keberadaan mangrove sangat penting bagi kelestarian alam dan lingkungan hidup

Mr Christian juga melengkapi keterangan temannya tadi, Bahwa keberadaan mangrove selain sebagai sumber oksigen, tetapi berfungsi juga sebagai pelindung pantai dari abrasi karena akar bakau dapat menangkap sedimen dan mengendapkan lumpur,  ujung-ujungnya dapat memperluas areal pantai

Saya mengangguk-anggukan kepala, seolah mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh beliau, padahal kepala Saya pusing, karena banyak kosa kata baru yang keluar dari mulutnya yang tidak Saya mengerti sama sekali

Melihat Saya antusias mendengarkan, Mr Christian menyimpulkan bahwa Saya suka dan mengerti dengan apa yang dibicarakannya, kemudian Beliau menambahkan lagi keterangannya seperti ini

Hutan Bakau ini tidak hanya berfungsi sebagai Nursery Ground, dan Feeding Ground, tetapi berfungsi juga sebagai Spawning Ground
Nah Lho…  Tambah pusing Gue,  Maksud loe Brur ?

Maksudnya, Hutan Bakau ini selain sebagai tempat untuk memijah (Spawning Ground) dari Ikan, Udang, dan Biota laut lainnya, tetapi juga sebagai induk asuh (Nursery Ground) dari biota laut, Reptil, Unggas, dan Mamalia kecil yang baru tumbuh sampai mereka menjadi dewasa, kemudian mereka disini dapat mencari makanannya sendiri secara alami (Feeding Ground) dihutan bakau ini

Ternyata kedatangan Saya ke Kawasan Konservasi ini tidak sia-sia, banyak pengetahuan baru yang Saya dapatkan secara tidak sengaja dari dua orang peneliti ini

Karena hari sudah agak siang, kemudian mereka pun pamitan, untuk melanjutkan perjalanan ke negaranya (via Jakarta)

Sebelum mereka pergi, iseng-iseng Saya bertanya kepada Mrs Yoan
“Can you speak Indonesia Mum?”
“Yes, We can speak Indonesia” Sahut mereka hampir bersamaan

Alamak !  Seandainya sebelumnya Saya tahu, mereka ini juga menguasai Bahasa Indonesia, Saya tidak harus buka-buka kamus dan pusing sendiri menyimak apa yang dijelaskan oleh mereka

Ternyata, Malu bertanya sesat dijalan ya?
Sambil mentertawai kebodohan diri sendiri, Sayapun melanjutkan lagi melihat-lihat koleksi tanaman bakau yang sempat terhenti tadi


Artikel lainnya tentang monyet,  Monyet Drakula


Tidak ada komentar: