Selasa, 15 Mei 2012

Traveling (3) Lereng Merapi

Hari berikutnya, Sy mengunjungi lereng merapi, yang terletak di Desa Kepuharjo dan Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman 


Setelah membayar ticket masuk sebesar 3 ribu kepada Pengelola Wisata, Sy memasuki kawasan Merapi, Kawasan ini  pada tahun 2010 lalu pernah dilanda lahar merapi, dalam perjalanan Sy sempat melihat bekas2 kerusakan yang ditimbulkan oleh Erupsi Merapi, sebagian bangunan dan rumah penduduk telah diperbaiki dan dibangun kembali, dan sebagian lagi dibiarkan apa adanya tanpa perbaikan oleh pemiliknya, mungkin sipemilik merasa trauma sehingga tidak berminat lagi untuk bertempat tinggal disitu, Bangunan rusak tersebut seolah menjadi monumen dan saksi bisu bahwa dikawasan tersebut pernah terjadi bencana yang menghancurkan kehidupan penduduk setempat 




Sambil beristirahat disebuah warung kecil yang banyak tersebar dipinggiran jalan, Sy sempat berbincang dgn Ibu Rohima yg berasal dari Sukabumi, pada hari itu, kami kebetulan bersamaan datang ke lereng merapi, tidak banyak yang dibicarakan dgn beliau, selain saling tukar kartu nama dan nomer ponsel, serta basa basi sedikit tentang informasi kondisi daerah asal masing-masing 


Beliau ini bekerja pada Rumah Sakit Swasta di Sukabumi, bersuamikan seorang warga Belanda mualaf yang telah pensiun, Suaminya ini telah pindah ke Indonesia dan telah tinggal kurang lebih 2 tahunan di Sukabumi   


Iseng-iseng saya tanyakan kepada Sang Suami, berapakah gaji pensiunan Anda di Belanda? Mungkin karena dirasakan kurang ethis bila menyebutkan nominal, dgn diplomatis Beliau memberi jawaban, bahwa pensiunan dinegaranya digaji setara dgn 6 bulan gaji pensiunan di Indonesia, 




Terlepas apakah Beliau ini berbicara jujur apa adanya atau hanya berbohong, Saya pun berandai-andai membayangkan mereka ini setelah pensiun dari pekerjaan sebelumnya, benar-benar dapat menikmati masa tuanya, dengan uang pensiun yang lebih dari cukup untuk melakukan “sesuatu” seperti melakukan perjalanan wisata dll 
Berbeda dgn para pensiunan yang ada di Negara kita, dimana jumlah uang pensiunnya hanya cukup untuk membayar rekening air, listerik, telephone, dan menjalani kehidupan seadanya 


Hal yang menggembirakan, ternyata masih ada kesamaan cara pandang dan pola pikir secara manusiawi diantara kami setelah melihat puing-puing yg disebabkan oleh letusan merapi, terenyuh, prihatin dan tidak dapat membayangkan kondisi psikologis penduduk setempat pada waktu erupsi itu terjadi 


Hari telah menjelang sore, kemudian Sy bersiap untuk kembali ke Jogya, dan saat itu anak Sy bertanya, “Mau naik keatas Pak” maksudnya ke puncak merapi, “Tidak Nak, Lebih baik kita pulang saja” sahutku, karena memang Sy merasa kurang sehat dan tidak ada niatan untuk melihat lebih dekat kepuncak merapi, walaupun disitu tersedia kendaraan yang dapat disewa, yang siap dan dapat mengantarkan kami ke Puncak, bila diminta



Tidak ada komentar: